Aku tak pernah mengerti mengapa rasa ini bertahan hingga kini.
Tak tahu apa lagi yang harus kutunggu
Kenyataannya, aku dan kamu tak mungkin bersatu.
Ya, ini salahku
Aku tak pernah paham betul tentang cinta sebelum mengenalmu.
Sekarang, aku tahu kalau cinta itu bodoh.
Bodoh karena bisa bertahan walau sendirian.
Bodoh karena rela sakit hati demi melihatmu bahagia
Bodoh karena hanya bisa mencintai dalam doa dan dalam diam
Entah cinta yang bodoh atau aku yang bodoh
Karena tanpa alasan apapun aku bertahan sampai detik ini
Sudah berapa lama ya aku menunggu di tempat yang sama?
Sepertinya sudah satu tahun lebih.
Aku tak tahu alasan aku menunggu sampai sejauh ini
Yang aku tahu, kamu berbeda
Dimataku kamu sempurna
Sempurna karena bisa membuatku lupa bahwa aku pernah terluka
Sempurna karena bisa membuatku lupa dengan mudah bahwa hatiku pernah patah
Jika kamu tanya alasan mengapa aku mengagumimu sedalam ini
Sungguh, aku tak punya alasan apapun
Kamu mau tahu cerita nya?
Seperti ini............
Satu tahun lalu.
Aku si anak kecil yang baru saja lulus sekolah menengah atas memilih untuk melanjutkan di tempat ku sekarang menimba ilmu
Saat hari pengenalan akademik tiba atau orang-orang biasa menyebutnya ospek, aku sama sekali tidak bersemangat.
Sampai aku bertemu seorang dari jurusan ekonomi bernama ara.
Kami bertemu di klinik kampus.
Dia berkata bahwa kamu membantu dia ketika dia kebingungan mencari teman-teman nya.
Disaat orang lain sibuk dengan urusannya masing-masing
Tapi kamu, begitu peduli hingga membantu dia menemukan barisan teman-teman nya.
Sungguh, kamu membuat aku penasaran bukan main.
Sebelum aku tahu sosok mu, aku sudah begitu mengagumimu.
Walau hanya mendengar cerita dari temanku itu.
Entah kenapa saat dia menyebutkan namamu hatiku berdegup dan saat itu juga aku mengagumimu
Aku mencarimu dan sampai akhirnya kita dipertemukan di tempat yang tak terduga.
Ya, kamu pasti tahu dimana pertama kali kita bertemu
Sebelum aku tahu namamu, aku sudah tertarik padamu
Yang hebatnya lagi, ketika aku tahu namamu ternyata kamu adalah orang yang selama ini aku cari
Dari situ aku mulai mengagumi dan mencari tahu secara lebih rinci tentang sosokmu.
Sampai hari pengenalan akademik berakhir aku mengajakmu foto bersama.
Tapi sayangnya kamu menolak mentah-mentah.
Lucu sekali memang.
Tak terasa sudah satu tahun berlalu aku masih tetap megagumi sosokmu.
Selama ini, aku kira ini hanya rasa kagum yang luar biasa hebat.
Tapi, aku mulai paham bahwa ini lebih dari rasa kagum.
Aku cinta kamu, mas.
Entah bagaimana dengan kamu, aku tak pernah peduli.
Selebihnya, pertemuan-pertemuan kita terjadi begitu indah.
kamu lah salah satu alasan aku untuk bangun tiap pagi dan bergegas pergi ke kampus.
Senyummu lah yang selalu aku tunggu setiap hari.
Tatapan matamu selalu membuat aku tak berkutik ketika memandangmu.
Setiap bertemu kamu aku selalu menundukkan kepalaku.
Aku takut mata kita bertemu.
Sungguh, aku malu.
Tapi setelah itu aku berteriak dan meloncat bahagia.
Berlebihan memang.
Kamu bisa tanyakan hal itu kepada teman-temanku.
Kamu yang membuat aku tersadar bahwa memang betul cinta tak harus memiliki.
Kamu mengajari aku menyebut namamu dalam setiap doa ku.
Kamu yang mengajariku bertahan sendirian.
Kamu juga yang mengajarkanku bahwa mengagumimu adalah salah satu keindahan.
Entah siapapun pasanganmu nanti, yang pasti aku selalu bahagia jika kamu bahagia.
Tak ingin munafik, aku pun sempat bermimpi aku lah yang menjadi pasanganmu.
Aku, kamu, kita
Bahagia.
Ketika saatnya tiba.
Entah bahagia karena bersama
Atau bahagia bersama karena memiliki pasangan masing-masing.
Yang jelas, kamu terlalu sempurna.
Untukku.
Sakit memang jika ternyata kamu bukan tulang rusukku.
Tapi setidaknya, kelak aku bisa menceritakan cerita dan bahagiaku ini kepada pasanganku dan ke anak cucuku nanti.
Bercerita bahwa aku pernah bahagia karena menunggu.
Pernah jatuh cinta sedalam-dalamnya walau dalam diam.
Pernah bertahan untuk seseorang yang bahkan tak menganggap ada.
Mungkin hati ku memang perih saat ini.
Tapi aku percaya pasti nanti akan pulih kembali
Asal kamu tahu, mas. Bahwa kamu adalah orang ke dua yang ingin aku bahagiakan setelah ibu ku.
Sekali lagi, aku cinta kamu.
Your biggest fans,
Psm.
Surat untukmu, my nobita.
Apa yang kutulis dan apa yang kalian baca tidak semua tentangku. Bisa jadi itu tentangmu, kan?
Wednesday, 27 January 2016
Thursday, 21 January 2016
Masih ingin sendiri
Mungkin sebagian orang mengira aku tak bisa melupakan mantan.
Hanya saja,mereka salah. Karena aku belum bisa melupakan kenangan.
Bukan karena dia terlalu indah.
Tapi karena pengkhianatan yang dia beri begitu berbekas.
Mudah bagi orang lain mengatakan aku harus kembali menemui cinta ku yang baru.
Tanpa kalian sadari, lukaku masih terlalu dalam.
Kalian mungkin tidak paham bagaimana aku harus menanggung rasa sakitnya sendiri.
Menanggung luka ku sendiri.
Ini tak semudah yang kalian kira.
Bukan aku tak percaya cinta lagi.
Dan bukan aku tak ingin berhubungan lagi.
Tapi, aku masih butuh waktu untuk sendiri.
Aku bisa saja membuka hati lagi.
Sayangnya, aku tak ingin luka yang perlahan aku tutup kembali terbuka dengan luka yang baru.
Aku mencoba memperbaiki diri.
Membenarkan hati.
Agar tetap kuat walau disakiti berkali-kali.
Tapi, luka yang kamu beri begitu menyakitkan.
Kamu yang dulu aku perjuangkan.
Kamu yang selalu aku pertahankan.
Teganya membuka ruang sehingga membiarkan orang lain masuk.
Kamu tergoda karena dia lebih punya segalanya.
Kamu pergi bersamanya karena dia bisa memberi apapun yang kamu mau.
Jadi laki-laki sepertimu mudah dibeli dengan uang?
Untung saja aku cepat tersadar.
Kalau kamu ingat, siapa orang yang menemani disaat kamu kehilangan orang yang paling kamu sayangi.
Apa kamu ingat siapa yang selalu mendukung dan setia berada disampingmu ketika orang-orang pergi meninggalkanmu.
Siapa yang selalu siap dan sigap menampung keluh kesahmu tanpa kamu tahu keluh kesahku.
Siapa yang selalu jadi pendengar yang baik untukmu?
Siapa yang selalu sabar ketika kamu bohongi?
Siapa yang selalu mempertahankan agar hubungan kita tetap baik-baik saja.
Aku yang memperjuangkan aku juga yang kesakitan.
Sampai pada akhirnya kamu pergi.
Pergi karena sebuah alasan "hutang budi"
Hutang budi karena dia banyak memberi.
Tapi tenyata materi lebih mudah kau lihat daripada hati.
Kamu bilang kamu dan dia hanya pura-pura.
Bodohnya aku dengan mudah percaya.
Bodohnya aku yang tak membuka mata.
Karena aku masih sayang kamu, aku terima semuanya.
Hingga kepura-puraan itu menjadi nyata.
Nyata dan membuatku kecewa.
Kecewa membuat luka.
Mungkin lukaku sekarang akan menjadi penyesalanmu kelak.
Apa yang kamu rasa nanti akan lebih pedih dari apa yang aku rasa saat ini.
Semoga kamu tidak berpura-pura bahagia bersamanya.
Semoga kamu tidak menutupi topeng busukmu di hadapan nya.
Sebagaimana kamu menggunakan topeng terbaikmu di hadapan ku.
Mungkin aku memang kecewa, tapi akhirnya aku bahagia.
Bahagia karena aku telah dilepaskan dari orang yang tak tahu terimakasih.
Suatu saat nanti, ketika aku menemukan orang baru.
Orang yang mampu menggantimu.
Aku harap kamu jangan pernah kembali lagi.
Yang pastinya orang itu lebih indah dan bukan sampah sepertimu.
Memang benar, sampah akan tahu kemana dia kembali. Ya,ke tempat penampungan.
Semoga kalian berbahagia sampah-sampahku.
Psm.
Hanya saja,mereka salah. Karena aku belum bisa melupakan kenangan.
Bukan karena dia terlalu indah.
Tapi karena pengkhianatan yang dia beri begitu berbekas.
Mudah bagi orang lain mengatakan aku harus kembali menemui cinta ku yang baru.
Tanpa kalian sadari, lukaku masih terlalu dalam.
Kalian mungkin tidak paham bagaimana aku harus menanggung rasa sakitnya sendiri.
Menanggung luka ku sendiri.
Ini tak semudah yang kalian kira.
Bukan aku tak percaya cinta lagi.
Dan bukan aku tak ingin berhubungan lagi.
Tapi, aku masih butuh waktu untuk sendiri.
Aku bisa saja membuka hati lagi.
Sayangnya, aku tak ingin luka yang perlahan aku tutup kembali terbuka dengan luka yang baru.
Aku mencoba memperbaiki diri.
Membenarkan hati.
Agar tetap kuat walau disakiti berkali-kali.
Tapi, luka yang kamu beri begitu menyakitkan.
Kamu yang dulu aku perjuangkan.
Kamu yang selalu aku pertahankan.
Teganya membuka ruang sehingga membiarkan orang lain masuk.
Kamu tergoda karena dia lebih punya segalanya.
Kamu pergi bersamanya karena dia bisa memberi apapun yang kamu mau.
Jadi laki-laki sepertimu mudah dibeli dengan uang?
Untung saja aku cepat tersadar.
Kalau kamu ingat, siapa orang yang menemani disaat kamu kehilangan orang yang paling kamu sayangi.
Apa kamu ingat siapa yang selalu mendukung dan setia berada disampingmu ketika orang-orang pergi meninggalkanmu.
Siapa yang selalu siap dan sigap menampung keluh kesahmu tanpa kamu tahu keluh kesahku.
Siapa yang selalu jadi pendengar yang baik untukmu?
Siapa yang selalu sabar ketika kamu bohongi?
Siapa yang selalu mempertahankan agar hubungan kita tetap baik-baik saja.
Aku yang memperjuangkan aku juga yang kesakitan.
Sampai pada akhirnya kamu pergi.
Pergi karena sebuah alasan "hutang budi"
Hutang budi karena dia banyak memberi.
Tapi tenyata materi lebih mudah kau lihat daripada hati.
Kamu bilang kamu dan dia hanya pura-pura.
Bodohnya aku dengan mudah percaya.
Bodohnya aku yang tak membuka mata.
Karena aku masih sayang kamu, aku terima semuanya.
Hingga kepura-puraan itu menjadi nyata.
Nyata dan membuatku kecewa.
Kecewa membuat luka.
Mungkin lukaku sekarang akan menjadi penyesalanmu kelak.
Apa yang kamu rasa nanti akan lebih pedih dari apa yang aku rasa saat ini.
Semoga kamu tidak berpura-pura bahagia bersamanya.
Semoga kamu tidak menutupi topeng busukmu di hadapan nya.
Sebagaimana kamu menggunakan topeng terbaikmu di hadapan ku.
Mungkin aku memang kecewa, tapi akhirnya aku bahagia.
Bahagia karena aku telah dilepaskan dari orang yang tak tahu terimakasih.
Suatu saat nanti, ketika aku menemukan orang baru.
Orang yang mampu menggantimu.
Aku harap kamu jangan pernah kembali lagi.
Yang pastinya orang itu lebih indah dan bukan sampah sepertimu.
Memang benar, sampah akan tahu kemana dia kembali. Ya,ke tempat penampungan.
Semoga kalian berbahagia sampah-sampahku.
Psm.
Subscribe to:
Posts (Atom)
