Mungkin sebagian orang mengira aku tak bisa melupakan mantan.
Hanya saja,mereka salah. Karena aku belum bisa melupakan kenangan.
Bukan karena dia terlalu indah.
Tapi karena pengkhianatan yang dia beri begitu berbekas.
Mudah bagi orang lain mengatakan aku harus kembali menemui cinta ku yang baru.
Tanpa kalian sadari, lukaku masih terlalu dalam.
Kalian mungkin tidak paham bagaimana aku harus menanggung rasa sakitnya sendiri.
Menanggung luka ku sendiri.
Ini tak semudah yang kalian kira.
Bukan aku tak percaya cinta lagi.
Dan bukan aku tak ingin berhubungan lagi.
Tapi, aku masih butuh waktu untuk sendiri.
Aku bisa saja membuka hati lagi.
Sayangnya, aku tak ingin luka yang perlahan aku tutup kembali terbuka dengan luka yang baru.
Aku mencoba memperbaiki diri.
Membenarkan hati.
Agar tetap kuat walau disakiti berkali-kali.
Tapi, luka yang kamu beri begitu menyakitkan.
Kamu yang dulu aku perjuangkan.
Kamu yang selalu aku pertahankan.
Teganya membuka ruang sehingga membiarkan orang lain masuk.
Kamu tergoda karena dia lebih punya segalanya.
Kamu pergi bersamanya karena dia bisa memberi apapun yang kamu mau.
Jadi laki-laki sepertimu mudah dibeli dengan uang?
Untung saja aku cepat tersadar.
Kalau kamu ingat, siapa orang yang menemani disaat kamu kehilangan orang yang paling kamu sayangi.
Apa kamu ingat siapa yang selalu mendukung dan setia berada disampingmu ketika orang-orang pergi meninggalkanmu.
Siapa yang selalu siap dan sigap menampung keluh kesahmu tanpa kamu tahu keluh kesahku.
Siapa yang selalu jadi pendengar yang baik untukmu?
Siapa yang selalu sabar ketika kamu bohongi?
Siapa yang selalu mempertahankan agar hubungan kita tetap baik-baik saja.
Aku yang memperjuangkan aku juga yang kesakitan.
Sampai pada akhirnya kamu pergi.
Pergi karena sebuah alasan "hutang budi"
Hutang budi karena dia banyak memberi.
Tapi tenyata materi lebih mudah kau lihat daripada hati.
Kamu bilang kamu dan dia hanya pura-pura.
Bodohnya aku dengan mudah percaya.
Bodohnya aku yang tak membuka mata.
Karena aku masih sayang kamu, aku terima semuanya.
Hingga kepura-puraan itu menjadi nyata.
Nyata dan membuatku kecewa.
Kecewa membuat luka.
Mungkin lukaku sekarang akan menjadi penyesalanmu kelak.
Apa yang kamu rasa nanti akan lebih pedih dari apa yang aku rasa saat ini.
Semoga kamu tidak berpura-pura bahagia bersamanya.
Semoga kamu tidak menutupi topeng busukmu di hadapan nya.
Sebagaimana kamu menggunakan topeng terbaikmu di hadapan ku.
Mungkin aku memang kecewa, tapi akhirnya aku bahagia.
Bahagia karena aku telah dilepaskan dari orang yang tak tahu terimakasih.
Suatu saat nanti, ketika aku menemukan orang baru.
Orang yang mampu menggantimu.
Aku harap kamu jangan pernah kembali lagi.
Yang pastinya orang itu lebih indah dan bukan sampah sepertimu.
Memang benar, sampah akan tahu kemana dia kembali. Ya,ke tempat penampungan.
Semoga kalian berbahagia sampah-sampahku.
Psm.

No comments:
Post a Comment