Hari ini aku sedih, aku menangis, aku terluka, aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku yang dua tahun belakangan ini berjuang untuk mempertahankan pengabaian, aku yang berjuang tanpa tahu harus berhenti kapan dan dimana. Aku yang menunggu tanpa pernah kamu tahu. Aku yang mencintai tanpa pernah dicintai balik. Aku yang menjaga hati agar tak ada orang lain masuk selain kamu, aku semuanya! Semuanya aku yang melakukan! Tetapi dua tahun aku rasa sudah cukup, cukup untuk semua hal yang aku lakukan dengan bodoh.
Hari ini, akhirnya aku tahu siapa sebenarnya pemilik hatimu. Siapa yang sebenarnya ada di hatimu, siapa yang kamu cintai. Aku tahu! Bukan aku tak ikhlas, hanya saja orang itu datang dengan seenaknya dan menghancurkan semua pertahanan ku. Menghancurhan semua harapan dan cinta ku. Dia, yang dengan singkat dapat membuatmu cinta sedangkan aku dengan waktu lama sama sekali tak pernah kamu lihat. Kalian bahagia sekarang? Tentu! Aku? Bagaimanapun hancurnya perasaanku aku harus tetap ikut berbahagia.
Dia yang membuatmu jatuh hati, dia adalah teman. Ya temanku. Teman dekat? Bisa jadi. Yang membuat aku semakin sakit adalah kenapa harus dia? Dia yang ku kenal. Setidaknya jika bukan dia aku tidak akan separah ini. Dia bercerita kebahagiaan kalian denganku, aku terpaksa harus menutupi rasa ini padamu. Aku tidak ingin dia tahu. Aku terpaksa tak mengatakan bahwa aku juga mencintaimu. Aku harus dengan terpaksa ikut berbahagia dan tersenyum, namun ini lebih dari sekedar patah hati.
Cukup sampai hari ini, aku tak mau semakin sakit lagi. Aku hanya ingin menitipkan kamu dengan dia, mungkin tuhan benar. Aku tak cukup pantas untuk menjagamu maka tuhan datangkan dia untuk menggantiku. Harusnya dari awal aku tidak sebodoh ini, karena mau aku berjuang sampai matipun kamu tidak akan pernah mencintaiku. Aku hanya sampah di hidupmu, aku hanya pengganggu keseharianmu. Aku bodoh! Aku tolol! Menghabiskan waktu hanya untuk kamu yang sama sekali tak pernah peduli. Jatuh cinta pada orang yang bahkan aku tidak tahu warna matanya. Dan akhirnya, tuhan mengirim dia. Agar aku tersadar dari segala mimpi buruk ini, agar aku bangkit dan melupakan semua tentang kamu.
Terimakasih sekali karena kamu pernah menjadi senyum penyemangat aku setiap pagi. Terimakasih karena kamu yang telah membuat aku mengerti bahwa cinta adalah ikut bahagia walau kamu bukan bahagia karenaku. Ikhlas karena harus melepas kamu dengan teman ku sendiri. Menerima kalau kamu memang tak akan pernah menjadi milikku. Air mata ini mungkin hanya simbol dari rasa luka yang aku rasa. Tapi aku yakin dan memastikan bahwa air mata ini tidak akan terus menerus menangisimu. Cukup sampai di sini. Cukup untuk menanti dan cukup untuk mencintai.
Doa ku selalu untuk kebahagiaanmu, kebahagiaan kalian berdua. Selamat! Semoga penggantimu nanti bisa membuat aku lupa bahwa aku pernah mencintaimu sedalam ini dan pernah patah hati sampai sesakit ini. Terimakasih :)

No comments:
Post a Comment